Sekali seseorang terkena hipertensi kemungkinan besar akan mengalaminya seumur hidup. Namun penyakit ini dapat dikendalikan agar tidak menjadi parah.
Hipertensi adalah sebuah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Hipertensi merupakan keadaan dimana tekanan darah, secara kronis, meningkat. Dalam sebuah survei di Amerika dinyatakan bahwa hampir 1 dari 3 orang dewasa mengalami hipertensi.
Hipertensi yang tidak dikendalikan dan terjadi secara terus menerus akan dapat mengakibatkan stroke, gagal jantung, serangan jantung, aneurisma, dan kerusakan ginjal.
Darah berjalan melalui sebuah saluran dalam tubuh yang disebut arteri atau pembuluh darah. Yang disebut dengan tekanan darah adalah kekuatan darah dalam menekan dinding pembuluh darah. Setiap kali jantung berdetak (sekitar 60-70 kali per menit dalam keadaan istirahat), akan memompa darah kita melewati pembuluh darah.
Tekanan terbesar terjadi ketika jantung memompa darah (dalam keadaan mengempis), dan ini disebut dengan tekanan sistolik. Ketika jantung beristirahat (dalam keadaan mengembang), terjadi tekanan darah berkurang. Hal ini disebut sebagai tekanan diastolik. Tekanan darah selalu digambarkan sebagai dua nilai tekanan tersebut. Tekanan darah normal orang dewasa adalah sekitar 120/80 mmHg. Sedangkan pada hipertensi, tekanan darah mencapai 140/90 mmHg bahkan lebih.
Penatalaksanaan hipertensi dilakukan dengan 2 cara yaitu,
Perubahan gaya hidup yaitu dengan:
1. Menurunkan kelebihan berat badan
2. Mengurangi asupan garam
3. Menciptakan keadaan yang rileks
4. Melakukan olah raga yang teratur
5. Hindari merokok dan minum alcohol
Terapi dengan obat, antara lain:
1. Diuretic. Obat golongan ini bekerja dengan mengeluarkan cairan tubuh melalui urin. Dengan begitu kerja jantung menjadi lebih ringan. Contoh diuretic adalah hidroklortiazid (HCT) dan furosemide.
2. Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE). Obat golongan ini akan melebarkan pembuluh darah sehingga kerja jantung lebih mudah dan effisien. Contohnya adalah captopril, dan lisinopril.
3. Antagonis reseptor angiotensin II. Bekerja dengan cara yang sama dengan penghambat ACE. Contohnya, losartan dan irbesartan.
4, Beta bloker. Bekerja dengan cara mengurangi detak jantung sehingga tekanan darah menjadi turun. Contohnya propanolol.
5. Antagonis kalsium. Bekerja dengan cara mengurangi daya pompa jantung dengan menghambat kontraksi jantung. Contohnya Nifedipin.
Penatalaksanaan hipertensi yang berhasil merupakan gabungan dari kedua cara itu. Bahkan terapi dengan menggunakan obat dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa golongan obat yang telah disebutkan diatas. Dalam pelaksanaan pengendalian terhadap hipertensi, terapi yang dijalankan, baik itu perubahan gaya hidup maupun dengan obat, harus dilakukan terus menerus seumur hidup. Oleh karenanya, biaya yang dikeluarkan, terutama untuk pembelian obat, menjadi sangat besar.
Pemilihan untuk menggunakan obat generik yang bermutu, merupakan pilihan yang rasional dalam meminimalkan pengeluaran. Indofarma menyadari hal ini sepenuhnya. Sehingga, Indofarma selalu berusaha menyediakan obat generik yang bermutu tinggi dengan harga terjangkau. (Advetorial Indofarma)
Senin, 10 Agustus 2009
Serba-serbi Flu Pada Anak
Jakarta, Banyak orang tua yang panik saat anaknya terkena flu, apalagi biasanya flu pada anak disertai dengan batuk dan demam. Ada banyak mitos-mitos yang dipercaya masyarakat selama ini tentang flu pada anak. Benarkah mitos-mitos tersebut?
Ketika terkena flu, batuk, nyeri perut dan infeksi telinga, setiap orang memiliki teori sendiri-sendiri. Beberapa mitos biasanya datang dari generasi terdahulunya atau berdasarkan pengetahuan sebelumnya, bahkan ada yang sudah terbiasa.
Tapi kebanyakan dari mitos tersebut tidak benar, ini dia fakta yang sebenarnya, seperti dikutip dari Wattpad, Sabtu (8/8/2009):
Ingus hijau berarti terjadi sesuatu yang lebih buruk dari flu
Faktanya: Tidak selalu seperti itu. Ingus yang bening adalah hal yang biasa, ingus yang hijau atau kuning juga gejala dari flu. Namun, ingus yang berwarna tidak biasa disertai dengan demam tinggi, batuk, penurunan indera perasa atau hidung yang mampat bisa sebagai tanda telah terinfeksi bakteri dan biasanya membutuhkan antibiotik.
Flu lebih cepat menular sebelum gejalanya timbul
Faktanya: Penyebaran flu lebih mudah ketika gejalanya sudah terlihat parah. Itulah sebabnya infeksi ini lebih sering terjadi saat anak yang flu batuk dan bersin-bersin atau bisa juga dari kontak tangan antara anak yang sakit dengan yang sehat yang mengandung virus. Flu tidak akan menular jika gejalanya tidak timbul, karena dibutuhkan perantara untuk menularkannya seperti lewat udara atau benda-benda.
Flu menyebabkan infeksi telinga
Faktanya: Tidak selalu seperti itu, hampir semua flu disebabkan oleh virus, sedangkan 90 persen infeksi telinga disebabkan oleh bakteri. Jadi, apa yang menyebabkan anak terlihat seperti menderita infeksi telinga saat flu?
"Flu menghasilkan ingus dan cairan lainnya yang bisa naik ke saluran telinga, sehingga menghasilkan lingkungan yang ideal untuk tumbuhnya bakteri," ujar Ari Brown, M.D. Jadi, bukan flu yang menyebabkan infeksi telinga melainkan cairan yang naik ke saluran telinga.
Tidak perlu mengobati demam yang ringan
Faktanya: Tergantung dari apa yang dirasakan oleh anak. Demam juga berarti tubuh sedang melawan infeksi dengan menstimulasi sistem imun dan membunuh bakteri serta virus agar tidak bisa bertahan dan menurunkan suhu menjadi normal kembali. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkan anak demam, cobalah untuk menyembangkan antara menjaga kenyamanan anak dan membiarkan tubuh bekerja. Jika anak terlihat lesu, lemah, kesakitan berilah obat yang bisa membuatnya beristirahat dan tidur, tapi jika anak tetap ceria dan bisa beraktivitas hanya perlu diawasi saja dan pastikan agar tetap hidrat.
Jangan mencium anak jika orang tua flu
Faktanya: Saat bersin atau batuk yang akan membawa virus atau bakteri lebih banyak adalah di tangan, sementara saliva atau air liur hanya membawa sedikit virus dan bakteri. Jadi, cara terbaik untuk menjaga anak agar tidak flu adalah dengan mencuci tangan sesering mungkin setelah bersin atau batuk. (health.detik)
Ketika terkena flu, batuk, nyeri perut dan infeksi telinga, setiap orang memiliki teori sendiri-sendiri. Beberapa mitos biasanya datang dari generasi terdahulunya atau berdasarkan pengetahuan sebelumnya, bahkan ada yang sudah terbiasa.
Tapi kebanyakan dari mitos tersebut tidak benar, ini dia fakta yang sebenarnya, seperti dikutip dari Wattpad, Sabtu (8/8/2009):
Ingus hijau berarti terjadi sesuatu yang lebih buruk dari flu
Faktanya: Tidak selalu seperti itu. Ingus yang bening adalah hal yang biasa, ingus yang hijau atau kuning juga gejala dari flu. Namun, ingus yang berwarna tidak biasa disertai dengan demam tinggi, batuk, penurunan indera perasa atau hidung yang mampat bisa sebagai tanda telah terinfeksi bakteri dan biasanya membutuhkan antibiotik.
Flu lebih cepat menular sebelum gejalanya timbul
Faktanya: Penyebaran flu lebih mudah ketika gejalanya sudah terlihat parah. Itulah sebabnya infeksi ini lebih sering terjadi saat anak yang flu batuk dan bersin-bersin atau bisa juga dari kontak tangan antara anak yang sakit dengan yang sehat yang mengandung virus. Flu tidak akan menular jika gejalanya tidak timbul, karena dibutuhkan perantara untuk menularkannya seperti lewat udara atau benda-benda.
Flu menyebabkan infeksi telinga
Faktanya: Tidak selalu seperti itu, hampir semua flu disebabkan oleh virus, sedangkan 90 persen infeksi telinga disebabkan oleh bakteri. Jadi, apa yang menyebabkan anak terlihat seperti menderita infeksi telinga saat flu?
"Flu menghasilkan ingus dan cairan lainnya yang bisa naik ke saluran telinga, sehingga menghasilkan lingkungan yang ideal untuk tumbuhnya bakteri," ujar Ari Brown, M.D. Jadi, bukan flu yang menyebabkan infeksi telinga melainkan cairan yang naik ke saluran telinga.
Tidak perlu mengobati demam yang ringan
Faktanya: Tergantung dari apa yang dirasakan oleh anak. Demam juga berarti tubuh sedang melawan infeksi dengan menstimulasi sistem imun dan membunuh bakteri serta virus agar tidak bisa bertahan dan menurunkan suhu menjadi normal kembali. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkan anak demam, cobalah untuk menyembangkan antara menjaga kenyamanan anak dan membiarkan tubuh bekerja. Jika anak terlihat lesu, lemah, kesakitan berilah obat yang bisa membuatnya beristirahat dan tidur, tapi jika anak tetap ceria dan bisa beraktivitas hanya perlu diawasi saja dan pastikan agar tetap hidrat.
Jangan mencium anak jika orang tua flu
Faktanya: Saat bersin atau batuk yang akan membawa virus atau bakteri lebih banyak adalah di tangan, sementara saliva atau air liur hanya membawa sedikit virus dan bakteri. Jadi, cara terbaik untuk menjaga anak agar tidak flu adalah dengan mencuci tangan sesering mungkin setelah bersin atau batuk. (health.detik)
Langganan:
Postingan (Atom)