Rabu, 22 April 2009

Konsumsi Kedelai Sejak Kecil Mengecilkan Risiko Kanker Payudara

Wanita yang sejak kecil rajin mengonsumsi kedelai memiliki risiko jauh lebih rendah terserang kanker payudara. Temuan itu juga memperlihatkan konsumsi lebih banyak kedelai memiliki dampak pencegahan dan menunjukkan dampak perlindungan paling kuat pada masa kanak-kanak. Penelitian itu melibatkan hampir 1.600 perempuan Asia-Amerika. 600 di antara mereka menderita kanker payudara dan sisanya sehat.


Perempuan yang rutin mengonsumsi kedelai pada masa kanak-kanak (rata-rata sekali satu pekan atau lebih) memiliki risiko 58 persen lebih kecil untuk terserang kanker payudara dibandingkan dengan perempuan yang sedikit mengonsumsi kedelai. Sedangkan konsumsi kedelai secara rutin pada masa dewasa berkaitan dengan penurunan 25 persen risiko kanker payudara.(wk)

Kamis, 16 April 2009

Tempe Sumber Antioksidan

Sebagai makanan rakyat, tempe terkesan murahan. Akan tetapi justru didalam tempe terdapat kandungan antioksidan yang bisa membantu tubuh menangkal radikal bebas. Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.

Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.

Kandungan dalam tempe merupakan sumber antioksidan yang baik. Maka jika dikonsumsi secara cukup dan teratur, bisa mencegah terjadinya proses penuaan dini. Penelitian yang dilakukan di universitas North Carolina, Amerika Serikat, juga menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

(wk/wikipedia)

Rabu, 08 April 2009

Hati-hati Junk Food

Penetrasi makanan Barat sudah masuk dalam gaya hidup orang Indonesia. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji seperti pizza atau hamburger, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Sayangnya, makanan siap saji itu bisa membawa dampak buruk bagi tubuh. Salah satunya adalah mempercepat proses penuaan dini.

Besarnya pengaruh makanan siap saji dalam proses penuaan dini terlihat dari studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Glasgow University. Para ilmuwan melakukan percobaan pada unggas untuk melihat pengaruh makanan cepat saji (junk food). Unggas tersebut dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama diberi makanan semacan junk food, sedangkan kelompok kedua diberi makanan dengan takaran sesuai yang dibutuhkan.

Dari penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa unggas yang diberi makanan sejenis junk food sejak lahir sampai pada usia 2 minggu, lebih cepat mati. Hal ini karena zat anti penuaan dan antioksidan yang diproduksi tubuhnya hanya bertambah sedikit. Perlu diketahui, antioksidan berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh, sehingga kerusakan yang ditimbulkan partikel radikal bebas bisa menurun.

Sebenarnya antioksidan yang terdiri dari vitamin A dan E, antara manusia dan unggas berbeda. Pada manusia sudah ada antioksidan alami dalam tubuh. Sementara tubuh unggas tidak dapat membuat antioksidan sendiri. Jadi, unggas mendapatkannya dari makanan yang dikonsumsi.

Menurut Prof.Pat Monagham dan Prof.Neil Metcalfe, kedua kelompok unggas uji coba itu masih bisa tumbuh dengan kecepatan sama dan mencapai usia dewasa muda. Tapi, unggas yang mendapat makanan junk food sejak lahir hanya mendapat antioksidan yang jumlahnya sedikit.

"Saya pikir kondisi ini mungkin tidak sama bila manusia mengonsumsi junk food. Tapi siapa yang tahu?" tutur Prof.Metcalfe yang melaporkan hasil studi ini dalam Natural Environment Research Council. So, berhati-hati mungkin merupakan langkah terbaik. (wk)

Jumat, 03 April 2009

Apa Itu HIV ?

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4+ T cell dan macrophage, komponen vital dari sistem kekebalan tubuh 'tuan rumah') dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yaitu menyebabkan kekurangan imunitas. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.

Istilah HIV telah digunakan sejak tahun 1986 sebagai nama untuk retrovirus yang diusulkan pertama kali sebagai penyebab AIDS oleh Luc Montagnier dari Perancis. Awalnya, dinamakan virus LAV (Lymphadenopathy-Associated Virus). Robert Gallo dari Amerika Serikat awalnya menamakan HTLV-III (Human T Lymphotropic Virus Type III).

HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan seks oral. Juga melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum terkontaminasi, serta antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui.

Penggunaan pelindung fisik, seperti kondom latex dianjurkan untuk mengurangi penularan HIV melalui seks. Belakangan ini diusulkan bahwa penyunatan dapat mengurangi risiko penyebaran virus HIV [3]. Tetapi banyak ahli percaya bahwa masih terlalu awal untuk menyimpulkan bila penyunatan lelaki mencegah HIV (wk/wikipedia)