Mendengar kata alergi, mengingatkan orang akan bercak-bercak merah pada kulit. Tapi bagaimana dengan bayi yang mengalami alergi pada susu sapi? Ternyata gejalanya gak jauh beda. Selain terdapat bercak-bercak merah pada kulit, alergi susu sapi pada bayi juga menimbulkan diare, sembelit dan asma.
Alergi susu sapi sering ditemukan pada anak dibawah usia 3 tahun, terutama dibawah usia 12 bulan. Hal ini dihubungkan dengan maturasi (pematangan) sistem saluran cerna. Alergi susu sapi termasuk alergi makanan.
Gejala klinin yang sering terlihat adalah gangguan saluran cerna (50% - 80%), kemudian muntah, diare berlanjut yang kadang-kadang disertai darah, sembelit, reaksi pada kulit (eksim dan urtikaria), saluran napas (batuk berulang dan asma), serta dalam beberapa kasus ada yang mengalami gangguan pertumbuhan anak. Selain itu bila bayi tetap gumoh padahal posisi menyusui sudah benar, bisa menjadi tanda alergi.
Bila anak diare yang dibawa ke dokter tidak sembuh dalam 5 hari, maka kemungkinan diarenya karena alergi susu sapi. Selain itu untuk memastikan bayi terserang alergi susu sapi dapat dilakukan tes yang disebut eliminasi. Caranya bayi tidak diberi susu sapi selama dua sampai tiga minggu. Hal itu disertai dengan pemberian makanan padat yang mengandung susu sapi.
Jika setelah memakan makanan padat yang mengandung susu sapi tidak terdapat gejala klinis alergi maka berarti bayinya tidak alergi susu sapi. Tapi bila alergi, maka anak tersebut tidak boleh diberi susu sapi.
Untuk mengatasi bayi yang terkena alergi susu sapi dapat diberikan susu sapi yang sudah dihidrolis secara penuh, sehingga efek alerginya jauh lebih berkurang. Namun memberikan ASI tetaplah jalan yang terbaik karena kandungan ASI lebih sempurna daripada kandungan pada susu sapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar