Pada umumnya mereka yang berbakat diabetes, kadar gula darah akan meningkat sehabis makan, tapi akan kembali normal dalam 2 jam. "Bila masih lebih dari 200 mg/dl, menunjukkan hormon insulinnya tidak bekerja," tutur kardiolog dan internis RS Pertamina Pusat, dr. Djoko Maryono.
Pada orang normal, naiknya kadar gula dalam darah sehabis makan memicu organ pankreas mengeluarkan insulin untuk mencegah kenaikan kadar gula lebih tinggi. Sehingga secara perlahan kadar gula menurun. Namun pada penderita diabetes, pankreas tidak mampu berproduksi insulin sesuai dengan kebutuhan badan.
Dalam versi Djoko, orang dianggap berbakat diabetes bila kadar gula darah sewaktu diperiksa mencapai 150-180 mg/dl. Bakat ini bisa berasal dari garis keturunan atau memiliki kegemukan sentral, dimana ukuran lingkar pinggang pria lebih dari 90 cm dan perempuan lebih dari 80 cm. Perempuan yang melahirkan bayi lebih dari 4,5 kg, juga diindikasi berbakat diabetes.
"Bakat Diabetes 30% dipengaruhi genetika, sedangkan 70% dari pola hidup dan lingkungan," ia menuturkan.
Adapun penderita diabetes biasanya cenderung banyak makan, minum serta buang air kecil.
Pada penderita tertentu, badan kerap pegal linu, rambut rontok dan bobot tubuh turun mencapai 20 kg. Bahkan seringkali koreng (luka) tidak sembuh-sembuh selama satu setengah tahun.
Namun kriteria itu belum muncul pada mereka yang baru sebatas berbakat diabetes. Tapi gejala yang kerap timbul lazimnya 20% diantaranya mengalami masalah penglihatan, 35% gangguan jantung, 45% disfungsi ereksi, dan sisanya terjangkit luka yang tidak kunjung sembuh.
Penduduk Indonesia yang terkena diabetes diperkirakan bakal melonjak. Pada 2010 akan mencapai 85-100 juta jiwa. Pemicunya, tak lain, negeri ini bagian dari kawasan Asia Pasifik yang karakter orangnya gemar makan manis, berlemak dan berbumbu. Adapun angka akselerasi penderita diabetes wilayah ini mencapai 57%, sedangkan di belahan Amerika jauh di belakang, cuma 23%.
Menilik sejarah, sejumlah pola makan masyarakat Nusantara berisiko menaikkan gula darah dan merusak fungsi pankreas. Misalnya di daerah Gunung Kidul, banyak perempuan hamil makan geplak, dari singkong yang mengandung sianida atau racun. Menurut dr. Brusma dari Universitas Amsterdam, yang meneliti daerah itu pada tahun 1950, sianida dalam geplak merusak pankreas pada bayi, sehingga pankreas tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya, produksi insulin tidak normal.
Selain penduduk pulau Jawa, masyarakat Sumatera diintai diabetes. Tercatat 3 dari 10 orang Padang menderita hipertensi dan gangguan toleransi gula dalam darah. Hal ini lantaran mereka "keracunan" gula dan lemak dari sajian penuh bumbu. Pola makan masyarakat urban dan perkotaan juga patut dikambinghitamkan. Makan cepat saji ala Barat sebetulnya mengandung tinggi radikal bebas. Bahan makanan itu diolah ulang pada suhu tinggi, lalu disimpan, kemudian diawetkan. "Soft drink dua botol sehari dapat mengakibatkan serangan diabetes," ujar Djoko.
Untuk itu cobalah modifikasi pola hidup Anda. Dimulai dini ketika ibu hamil tiga bulan pertama. Karena pada masa itu, janin harus tercukupi asupan proteinnya agar sekat jantung dan pembentukan pankreas menjadi sempurna. Dari banyak studi ditemukan, ikan kembung, selain berisi protein, mengandung omega 3 paling tinggi. Omega 3 berfungsi untuk membuat lentur pembuluh darah sehingga menghindari pembentukan plak atau sumbatan pada pembuluh darah, termasuk di jantung. "Omega 3 juga meningkatkan pengambilan insulin dari sel," papar Djoko.
Juga jangan lupa melakukan 7.500 langkah per hari. Rinciannya, 1 kalori itu 25 langkah dan seseorang harus membakar 300 kalori per hari. "300 kalori itu sama dengan 1 bungkus indomie atau 2 minuman kola atau sebungkus nasi goreng," kata Djoko.
Lalu bagi yang sudah terjangkit diabetes, selesai makan sangat disarankan langsung jalan kaki. Paling tidak 2.500 langkah yang bisa membakar 100 kalori. Langkah sebanyak itu sama dengan 50 meter. Bisa dilakukan baik pagi, siang maupun malam.
(Heru T, Koran Tempo)
Kamis, 29 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar