Bagi masyarakat Indonesia, sunat atau khitan bukan lagi hal yang asing. Sebagai umat Muslim, mayoritas pria Indonesia melakukan sunat. Ternyata, selain memenuhi ajaran agama, sunat juga amat bermanfaat bagi kesehatan kaum pria. Sunat bisa mengurangi risiko terkena penyakit berbahaya HIV/AIDS. Hal ini disebabkan mukosa kulup (kulit ujung penis) yang dibuat saat sunat ternyata menjadi media masuknya virus HIV.
"Kulup merupakan tempat yang paling subur untuk terkena virus HIV karena mengandung sel-sel yang sangat peka terhadap HIV. Kulit tersebut juga mudah luka sehingga virus mudah menyebar ketika melakukan hubungan seksual. Bila sudah dipotong, maka kebersihannya jauh lebih baik," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma Buana, dr Adi Sasongko. Mukosa penis mengandung sel langerhans sehingga lebih rawan terkena infeksi HIV. Bagian kulit di ujung penis yang lembab dan basah itu menjadi tempat paling cocok untuk bercokolnya virus HIV. Kulup yang basah juga berpotensi membantu penularan berbagai penyakit seksual lainnya.
Di Amerika Serikat yang populasi non muslimnya tinggi, ternyata jumlah pria yang disunat juga cukup tinggi. Begitu pula Filipina yang mayoritasnya penduduknya non muslim. Dalam sebuah penelitian di negara-negara Asia dan Afrika, diperoleh hasil bahwa negara yang populasi laki-laki sunatnya kurang dari 20 persen memiliki risiko terkena HIV beberapa kali lebih tinggi dibandingkan negara-negara yang populasi laki-laki sunatnya lebih dari 90 persen.
Menurut Carlos R Estrada dan rekan-rekannya dari Pusat Kesehatan St Lukas Rush- Presbyterian di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, sekita 80 persen infeksi HIV biasanya muncul selama melakukan hubungan seksual. Tempat yang paling sering dilalui infeksi HIV ini pada pria biasanya adalah penis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar